Sampai saat ini aku belum bisa membedakan?
Mana yang lebih menyenangkan, perasaan meluap-luap gembira
setiap saat, aku bisa menyapamu
Sebagai teman,
atau sebagai kekasih.
Tidak bisa aku bedakan lagi, apa itu rindu
menyapamu setiap hari,
mendengar ceritamu hampir setiap detik,
tapi tiba-tiba jantungku rasanya berhenti berdetak ketika rasa cemburu itu datang.
Atau sekadar menyimpannya saja rasa itu,
biarlah waktu yang membekukan rasa itu.
Saat ini, aku tidak tahu apa yang benar-benar aku inginkan dari apa yang aku jalani hari ini.
Tapi satu yang pasti,
ternyata bukan komitmen yang aku minta,
apakah kita ternyata menjadi sepasang kekasih atau sekadar teman dalam suka.
What ever the name!!
I don’t even care about it.
Sudah terlambat masaku untuk menikmati indahnya cinta yang semu.
Aku cuma menginginkan teman, sampai kapanpun.
Di masa apapun, dan itu tetap kamu.
Yang aku minta kamu juga memikirkan aku sebagai temanmu,
dan akan menjadi temanmu sampai kapanmu.
Namaku ada dalam hidupmu di masa depan.
Cuma itu……….
June 24, 2011
June 11, 2011
It was the topic that I really didn’t like to be discussed with you.
You can’t find the perfect guy,
but at least you can find some perfect fit on you.
Come on, dear…..
Are you perfect enough for me?
I am not sure
Am I looking for the perfect one?
I am not sure!
Why I love you?
Why always ended-up with these suck question.
How many times, I told you…I’ll never try to find the answer.
Because all my answers will only work for the heart, not just the head as yours.
At the end, for some reasons…..
I’ll stop my feeling….it wasn’t mean I that didn’t love you anymore.
But, because you want it.
I’ll do it for you
I’ll quit from the games
I’ll quit from your life
Until you’ll chasing me if really need me.
see you, dear
May 28, 2011
Tolong berhenti memintaku,
untuk
berhenti mencintaimu,
berhenti merindukanmu,
berhenti mengharapkanmu,
aku tak akan pernah bisa,
seperti halnya engkau pun,
tak akan bisa mengabulkan permintaanku,
untuk menyakiti aku,
mencari-cari alasan kenapa aku masih mencintaimu sampai detik ini,
berhenti mencariku disaat engkau membutuhkan perhatianku,
Mengapa kita tidak berhenti saja untuk saling meminta,
kalau ternyata kita masih bisa saling memberi,
menjalani hari ini dengan senyuman,
dan itu tetap membuat kita selalu bahagia,
menjalani hari-hari berat dengan indah.
Karena aku juga tidak tahu,
kapan aku aku akan berhenti mencintaimu,
menghentikan kegilaan yang indah ini, seperti katamu.
Seperti aku juga belum tahu kapan aku akan mulai bosan kepadamu.
Mungkin saat itu akan datang,
tetapi tetap, aku tidak akan pernah tahu itu kapan.
April 3, 2011
Waktu tetap berjalan,
tetap bisu,
tetap menjadi saksi,
bukan waktu yang menjawab,
bukan waktu yang menyembuhkan,
bukan waktu yang memaafkan,
bukan waktu yang menerima,
bukan waktu yang melupakan.
Tetapi pemilik waktu,
yang memutuskan,
yang memilih.
Memilih untuk menjawab,
memilih untuk menerima,
memilih untuk memaafkan,
memilih untuk mencari jawaban,
memilih untuk tidak tersakiti,
kalau tidak ada pilihan untuk menyembuhkannya.
April 2, 2011
You’ve been my golden best friend
Now with post-demise at hand
Can’t go to you for consolation
Cause we’re off limits during this transition
This grief overwhelms me
It burns in my stomach
And i can’t stop bumping into things
I thought we’d be simple together
I thought we’d be happy together
Thought we’d be limitless together
I thought we’d be precious together
But i was sadly mistaken
You’ve been my soulmate and mentor
I remembered you the moment i met you
With you i knew god’s face was handsome
With you i suffered an expansion
This loss is numbing me
It pierces my chest
And i can’t stop dropping everything
I thought we’d be sexy together
Thought we’d be evolving together
I thought we’d have children together
I thought we’d be family together
But i was sadly mistaken
If i had a bill for all the philosophies i shared
If i had a penny for all the possibilities i presented
If i had a dime for every hand thrown up in the air
My wealth would render this no less severe
I thought we’d be genius together
I thought we’d be healing together
I thought we’d be growing together
Thought we’d be adventurous togheter
But i was sadly mistaken
Thought we’d be exploring together
Thought we’d be inspired together
I thought we’d be flying together
Thought we’d be on fire together
But i was sadly mistaken
#alanis morissette – simple together
March 12, 2011
Kepada lelaki yang aku cintai,
aku mencarimu, ketika aku belum memilikimu,
aku menemukanmu, ketika aku belum tentu memilikimu,
aku menyanyangimu, pun belum tentu aku memilikimu
tapi aku sudah takut kehilanganmu,
padahal aku tidak berhak memilikimu,
apalagi takut kehilanganmu.
Kalaupun aku ternyata bisa memilikimu, pun aku harus siap kehilanganmu,
Lelaki yang aku cintai…….
yang aku siap adalah melihatmu bahagia,
tidak harus aku siapkan untuk kehilangan dirimu,
karena toh aku tidak memilikimu.
-manusia lupa—–
July 26, 2009

Judulnya itu, yang di atas. Berkisah tentang seorang editor English Oxford Dictionary (EOD) bernama Murray (lupa nama depannya siapa). Suatu ketika ia memutuskan untuk bertemu dengan kontributor kamus tersebut W. Chester Minor. Kenyataan-kenyataan mengejutkan terpapar di buku ini. Ternyata Minor adalah seorang pembunuh, dia dokter bedah yang sakit jiwa dan harus di rawat di rumah sakit jiwa selama ia mengirimkan naskah2 dalam proses penyusunan kamus tersebut.
Hm…pertama baca ini, nggak yakin klo ini non-fiksi. Yeah,,,overall…masuk recommended book-lah.
Semua bisa terjadi…..(baca sendiri aja yah…)
Minor yang jenius….Murray yang pandai. Simbiosis mutualisme yang menakjubkan.
July 21, 2009
Diantara ‘B’,'S’, atau ‘J’ mana yang aku suka….mungkin juga ‘D’
Posted by hysurya under 1, What I called HOMELeave a Comment
Itu huruf-huruf buat kota-kota yang cukup mengena di hati:
‘B’ means….
1. Bogor: yiipi,,,Buitenzorg,,,kota ini begitu akrab di telinga, karena Pram begitu banyak menyebutnya di buku tetralogi, ‘kota tanpa kegelisahan’. Aku suka kota ini dari pertama datang. Yah, walaupun rada sembrawut sih,,,kalo aku bilang. Banyak pengemis dan orang gila di sekitar Kebun Raya. Tempat paling dekat kedua setelah Depok buat meredam stres kalo pengen liat yang ijo. Makan asinan di Taman Topi ma Sitta, sambil dengerin lagunya Norah Jones, nongrong di bangku dekat kolam Istana Bogor sambil mencaci maki Indonesia (hum..dua cewek aneh..), foto-foto di kuburan Belanda di dalam kebun raya Bogor, nongrong berlama-lama sambil memandang hijaunya rumput di Dedaun Cafe, di sore hari. Sambil menikmati Ginger Tea di sore hari atau Mixed Fruit juice di siang hari. Hum,,,surga yang sederhana.
2. Bandung, ‘B’ yang kedua Bandung. Baru sekali siy ke Bandung, hhmm….yah tapi suka kok, banget. Pertama ke Bandung, ikut Suci, terus ke jalan-jalan ke ITB ketemu Abai, tadinya mau ke Palasari nyari buku, ternyata dah terlalu sore jadi nggak jadi deh. Yang paling seru pulangnya, tadinya mau naik KA ke Jakarta, trus naik bis, tadinya juga mau naik bis jurusan Kampung Rambutan, akhirnya berubah haluan naik bis jurusan Bandung-Tangerang. Mau pulang sekalian ke Tangerang soalnya. Pengalaman selama di bis, pengamen di Bandung cakep-cakep uey. Ada pengalaman memalukan, tapi nggak usah di-expose deh. Malu:). Masih berpikir ingin mengunjungi Bandung kembali, tapi untuk hidup di sana lebih lama………hm…boleh juga kayaknya (dasar,,,).
3. Baliem ‘B’ yang ketiga ini masih rada diawang-awang, tapi aku yakin suatu saat bisa kesana. Stelah mendapat suntikan anti malaria tentunya…ehehehehe…’exotic’ Baliem. Nggak tau kenapa hati ini begitu terpanggil ksana begitu mendengar namanya. Baliem…Papua…Asmat…Biak…Dani…semoga engkau masih tetap perawam begitu aku menginjakkan kaki disana.
4. Belitong, huhuh…’Am I being obsessive of Belitong?’…may be yes! Pantainya indah banget, sudah jatuh cinta sejak melihat Laskar Pelangi the movie. Tahun ini ada rencana kesana, tapi nggak jadi, terlalu cepat, telalu padat jadwal liburan tahun ini, terlalu ketat anggaran buat liburan. hehhee..intinya…mau ikut yang paket wiasata itu ma Pandu, tapi akunya yang nggak punya duwit. Waktunya yang pas ma jadwal kita, and selama dia di Indonesia juga nggak ada yang pas. Yah,,,someday, I’ll come Belitong.
5. ‘B’ yang kelima ini, mungkin aku nggak ingin mengnjunginya sejak awal. Mendatanginya berarti menjemput masa lalu, mendatanginya berarti aku harus mengorek luka lama. Aku tidak ingin mengunjungi kota ini. Biarlah aku yang mencatatnya dalam-dalam. Nggak usah ditebak, kota apa itu.
Cukup sekian untuk kota ‘B’…mungkin perlu ditambah lagi ‘B’ yang lain: Batam, Belgia,,,,(mungkin kalau nanti ada kesan yang mendalam). Ouh,,,ya ada lagi mestinya…Bali….(smua orang bisa bercerita tentang Bali aku kira).
6. ‘S’ yang pasti Sidoarjo, kota administratif yang ada di KTP aku, walau secara batin, aku tidak kenal kota ini. Sidoarjo, apa yang bisa kutulis tentangmu.
7. Surabaya, yeah,,,aku lebih bisa menulis banyak hal tentang dirimu. Surabaya yang panas, tapi aku mencintainya. Surabaya yang sedikit nggak bersahabat buat pendatang baru, tapi aku bisa menaklukkanmu. Surabaya, 5 menit dari rumah aku tempati di Taman Pondok Jati, (kalau dengan kecepatan 80km/jam tentu saja:). Surabaya, apa yang paling aku rindukan dari Surabaya? pasar Blauran, Taman Bungkul, TP, jalan A.Yani yang katanya macet, tapi nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Jakarta. Jalan Raya Darmo yang sudah mulai berkanopi,,,perjalanan setiaku selama SMA. Apalagi? terminal Joyoboyo? Wonokromo?Hehe…tempat-tempat yang banyak disebut juga oleh Pram dan Budi Darma dalam ‘Rafilus’nya. My home? iyah, tapi aku mungkin tidak akan merencanakan tua disana.
Kota-kota berawalan ‘S’ yang sudah aku susuri sepanjang Pulau Jawa dan cukup berkesan: Situbondo, Solo, mana lagi yah….:)
8. Jakarta, tentu saja…kota yang ingin aku kunjungi selalu. Semua ada disini, dan sekarang sudah siap aku tinggalkan. Yang paling menyenangkan dari Jakarta, hmm….surga buku (yang banyak diskon tentu saja). Aku tetap senang dengan kota ini, tapi mungkin nggak akan berlama-lama disini. Terlalu lama di kota ini akan membuatmu tua di jalan, terlalu banyak tuntutan dunia yang harus di penuhi disini,,hehehe (ini maksudnya apa? ntar aja deh tanya aku langsung kalau ketemu). It’s is my home? hmm..of course NOT.
9. Jogjakarta, yah tentu saja ‘J’ berikutnya adalah Jogja. I love this city since the first:). Jogja yang damai, rasanya nggak banyak tuntutan dunia hidup disini, ritme-nya santai. Biaya hidup masih murah. Pengen hidup di sini, tapi mungkin tidak terlalu lama. Jogja…Jogja….penuh kesan setiap kunjunganku. Terakhir ke Jogja kapan ya? 3 bulan kemarin, naik KA dari Jatinegara di pagi hari jam 06.30 nyampe stasiun Tugu jam 15.00, terus nyari penginapan di Sosrowijayan. Malemnya jalan-jalan sepanjang gang Sosrowijayan sampe stasiun Tugu, serasa di Kuta di malam hari. Besoknya, puter-puter Malioboro ampe gempor, dah kayak catwalk aja melenggang Malioboro-Mirota-Keraton bisa sehari 3-4 kali.
10. Jombang, yee…tentu saja…kota kelahiranku. My home? belum tau juga, yang jelas…Jombang tenang banget. Bolehlah hidup disini kalau dah nggak ada yang dipikir lagi buat memenuhi obsesi hidup. Sampe sekarang masih sering wara-wiri Jombang-Sidoarjo. My parent’s home….Separuh umurku disana. Sebagian kenangan masa lalu yang aku lupakan masih tersisa di sana, mungkin nggak akan terhapus oleh waktu.
11. Then, ‘D’ what does ‘D’? Mungkin Depok….tempat terdekat buat makan Hokben, tempat terdekat buat dapat buku yang diskonan di TM-book store, tempat terdekat buat ketemu Sitta dan ngobrol sepanjang malam, tempat terdekat dengan kenangan rada nggak enak.
Well, kota-kota yang aku sebutkan Jombang-Jogja-Bogor-Depok-Jakarta–lah ini rute ketemuanku ma temen lama, yang 12 tahun nggak ketemu, Pandu.
Belitong? will us see each again?
Surabaya or Sidoarjo? tempat yang mestinya bisa ketemu dan paling gampang, malah nggak pernah ketemu di kota ini.
Masih mencari….
Masih bertanya….
Masih ingin mengejar…
Masih ingin kembali…
What I called home?:)
July 14, 2009

cover Indo's version
Membaca ‘Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta’…siapa sangka buku yang tipis ini, so meaningful.
Tentang seorang kakek di Ekuador, yang lebih memilih hidup di hutan berteman dengan alam, setelah pergi meninggalkan desanya, dan kematian istrinya. Dia hidup dengan suku Indian Shuar.
Cerita yang sederhana, ketika ia mulai dapat membaca. Memaknai kata-kata yang tidak lazim ia pakai dalam hidupnya yang tertera dalam buku itu. Bahkan mungkin belum pernah ia lakukan selama hidupnya.
Buku tipis ini syarat pesan,,,,
Apa yang kita cari hidup ini.
Pak Tua lelah mengikuti tuntutan hidup yang ia jalani, ia ingin segera kembali ke gubuknya bersama buku-buku kisah cinta yang menantinya.
Sebagaimana Pak Tua, aku ingin kembali ke gua,,,,sebelum aku tua tapi. Bersama buku-buku dan gak mengikuti tuntutan dunia yang semakin gila ini. Dapatkah??
July 14, 2009
Aku ingin bercerita kepadamu tentang banyak hal, selama ini sudah sering aku lakukan, pada Vallen…(my diary’s book). Temanku yang setia, tapi dia gak bakal kasih komen apa-apa tentang yang akan kutulis.
Minggu terakhir di bulan Mei,
Semalem sebelumnya aku ke Depok, membunuh kejenuhanku ma Sitta, biasa…makan HokBen, trus ke TM Book store. Dapat buku-buku impor diskon, punya Shakespeare yang dah aku baca sebelumnya, terus ada penulis Jepan yang buku sebelumnya lagi aku baca ‘Botchan’. Terus menikmati suasana Depok di malam hari. Nggak tau kenapa jadi males pulang, jadilah menginap si kosan Sitta.
Besoknya berangkat pagi-pagi. Masuk kantor, nyalakan komputer, cek imel. OMG,,,ada imel yang harus aku tunggu memang beberapa hari ini. Imel tentang masa depan (mungkin).
Intinya, imel itu menyebutkan bahwa aku harus hadir di Surabaya besok jam 11 pagi. WEh,,,apalagi rencanaMu ya Allah? Masih dejavu, baru semalem menikmati keindahan kota Depok, pagi ini di Jakarta, ntar malem mungkin harus ke Surabaya. Jangan ditanya perasaanku bagaimana? gembira,,nggak juga, sedih? nggak juga, jengkel, capek, dan pengen menghilang di telan bumi iya. Atau pikiran paling naif, memanggil doraemon. It’s impossible.
Langkah pertama, beranjak dari meja menemui Wika, minta pertimbangan, terus sms mas-ku yang di Surabaya, kembali ke meja kerja. Googling harga tiket kereta api, cek jadwal penerbangan dan bertanya kepada koordinatorku.’Should I go home, mbak?’
Gak lama, balasan sms mas-ku ‘Pulang aja kalau memungkinkan dan ada peluang, kalau nggak ya nggak usah pulang gak apa’. Pesan terakhirku, nggak usah kasih tau orang rumah, apalagi ibuku, dia bakal panik. Aku juga sudah rela kalau kesempatan ini hilang.
Well, hasil survei dan pertimbangan cost and benefit menunjukkan bahwa aku harus pulang. Naik kereta api mungkin yang malam ini, sampai Surabaya besok pagi. Tapi berdasarkan pengalaman, aku bakal capek banget malah merusak acara besok siang. Satu-satunya jalan adalah naik pesawat terbang, kebetulan aku ada langganan biro perjalan di dekat kantor ini. Setelah menelpon biro perjalanan tersebut, ternyata ada jadwal penerbangan malam ini ke Surabaya, jam 22.00. Yah oke, aku ambil yang itu.
Ready to go home. Perasaan amburadul, accidently aku pulang ke rumah. Yang aku rindukan selama ini.
Jam 14.00, terpaksa aku ijin pulang lebih cepet, buat packing barang-barang yang harus aku bawa. Nggak banyak siy, paling cuman tas ransel satu aja. Tapi aku harus ambil tiket dulu ke biro perjalanan, dan bis DAMRI jurusan Kampung Rambutan-Cengkareng paling malam jam 18.00.
Jam 16.00, aku sudah keluar dari kost, menuju ke biro perjalanan, selanjutnya ke Kampung Rambutan.
Jam 16.55, dah nyampe terminal Kampung Rambutan, terpaksa ikut bis yang terdekat waktu berangkatnya jam 17.00. Bis masih sepi, aku memilih duduk di kursi paling depan. Penumpang bis ini nggak bakal penuh pikirku, jadi setiap orang pasti dapat memilih duduk di mana saja. Dan harapanku saat itu, semoga tidak ada ornag lain yang menginginkan duduk di kursi ini. Aku ingin sendiri saja. Bukan apa-apa, ini air mata sudah mengumpul kayak mendung hitam yang akan menumpahkan air hujan ke bumi. I cried,,,then!!!Sepanjang perjalanan dari Terminal Kampung Rambutan sampai memasuki pintu Tol Cengkareng. Ouh…what happen with me.
Beberapa lembar tissu, jangan sampai habis. Dan yang lebih buruk lagi, kenapa masih ada saja orang yang mau duduk disebelahku. Masih berderet-deret kursi kosong Pak, kenapa memilih tempat ini. Perjalanan Kp. Rambutan-Soekarno Hatta cukup panjang di sore hari, apalagi di tambah dengan macet.
Beberapa saat antara tangisan itu, masih sempat senyum juga. Beberapa sms aku kirim, buat mbak Lia (temen satu kos buat pamitan), Wika (temen satu kost juga). Aku tau kenapa aku harus pulang saat itu…yah memang aku harus pulang, guaku menunggu dan yang aku hujamkan dalam-dalam ‘All I have done, for my parent happines’ cuma itu. Yah, dengan alasan paling kuat itulah aku lupa keenggananku melakukan apa-apa yang tidak mungkin aku lakukan.
Beberapa saat kemudian, aku sempatkan log in ebuddy di hape, siapa aja yang lagi online dan belum sempat aku pamit sama mereka. Sitta, MbaK Lia, Wika, yah mereka………dengan pesanku ‘aku capek’, ‘sekarang lagi otw ke Bandara menuju ke sBY’,'pesawatku jam 22.00′. Tetap air mata nggak terbendung.
Demi menghemat baterey, aku logged off, walaupun saat-saat seperti ini aku bener-bener butuh banyak ngobrol dengan mereka. EH, beberapa detik sebelum logged off, muncul temen yang baru online, yah..Pandu lagi online. Akhirnya nggak jadi logged off. Dia yang menemaniku sepanjang perjalananku ke Bandara.
Beberapa kali sesegukan, nggak ada yang tau selain Bapak yang duduk di sebelahku ini. Haruskan aku minta maaf padanya? tapi buat apa? bukan aku yang minta dia duduk di sebelahku. Tapi yang pasti, aku melihat kebingungan di wajahnya, antara ingin bertanya atau bagaimana.
Saya bisa saja Pak, bercerita dengan Anda tapi saat itu saya juga benar-benar tidak tahu apa terjadi dengan diri ini.
Memasuki tol Cengkareng,
‘Mbak turun mana?’ Bapan itu bertanya, ketika sudah kering air mata ini.
‘Gerbang F, Pak’
‘Mau kemana mbak?’
‘Surabaya’
‘Saya juga turun gebang F, mau menjemput saudara saya’
Ouw..cuma semnyuman saja yang bisa saya berikan. Maap Pak, saya bisa saja bertanya, ‘saudara Bapak darimana?’,bla…bla…bla…yang seperti biasanya sering aku lakukan. Tapi hari itu nggak bisa.
Begitu turun dari bis, sekitar jam 18.30, masih lama buat chek-in, nggak tau musti ngapain. Mati gaya, penerbangan dmasih jam 10 malem.Masih ym-an ma Pandu.
Akhirnya, tanya Bapak Satpam, dimana ada colokan buat charger hp. Dia menunjukkan ada, stok kontak di pinggir tangga. Yasud, alhasil nongkrong disana, di bawah telpon umum, diantara hiruk-pikuk orang2 berlalu lalang, sampai jam 20.00, baterey lumayan penuh. Kemudian chek-in, menunggu sampai jam 22.00 sebelum akhirnya pesawat boarding. Untungnya Pandu mau nemani sampai pesawat boarding.
Jam 23.00 lebih, akhirnya sampai Juanda. Aku datang lagi Surabaya dengan perasaan amburadul……..(aku capek, tapi seneng akhirnya menyapamu lagi)
i’ll tell you the next stories………